Senin, 01 Februari 2016

Akhir Cerita Kita Part1


 Hari ini tepat pukul 5 sore ify dan Gabriel tiba di bandara Soekarno Hatta setelah perjalanan yang cukup melelahkan dilalui oleh keduanya. Baru kali ini lagi Ify menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Indonesia, setelah 7 tahun di negeri orang. Lain halnya dengan Gabriel yang setiap 6 bulan sekali ia kembali ke Indonesia untuk mengontrol bisnisnya, sejak 2 tahun terakhir ini , meski hanya beda 2 tahun Gabriel tumbuh menjadi pria yang sangat dewasa  dan juga sangat over protective terhadap sang adik, dan mungkin inilah yang membuat Ify terkesan manja. 
           Mereka berdua telah dijemput oleh seorang supir dengan beberapa orang pengawal dan seorang perempuan yang “notabenenya” direktur dari Damanik Corps dan pemilik dari Prasetya Corps, Ibu Rita,  yang membuat  orang-orang disekitar mereka dengan tatapan bertanya-tanya “siapa mereka ??? bagaimana mungkin 2 orang remaja itu begitu dihormati oleh direktur utama  pemilik perusahaan ternama di Indonesia dan bahkan dunia ????”.  dan mungkin ada yang menjawab sendiri pertanyaan mereka “oh mungkin anaknya ! tapi masa ia seorang ibu begitu hormat pada anaknya ???” 
            Sebentar lagi pertanyaan- pertanaan itu akan terjawab dengan datangnya serbuhan wartawan, Gabriel menarik tangan Ify dan buru-buru meninggalkan kerumunan wartawan sebelum rencana awalnya gagal. 
“Kenapa shi kakak narik-narik aku  ???” Tanya Ify heran
“Emangnya kamu mau dikejer-kejer wartawan ???” Tanya Gabriel bertanya
 “enggaklah kak, emang kita artis gitu dikejar-kejar wartawan ????”  Tanya Ify
“emang bukan tapi kita itu anak dari pemilik sah Damanik Corps, yang sampai saat ini pengusutan kasus ayah    ama bunda belum selesai dan kita bisa jadi bulan- bulanan wartawan tentang keselamatan kita dari emmm dari dari emmm” tiba-tiba saja muka  Gabriel berubah dan tidak melanjutkan kata-katanya
“udah kak, aku udah ngerti !!!” begitu juga dengan Ify, bahkan kini matanya telah berkaca-kaca
“kita duduk dulu fy”
          Mereka berdua terdiam sesaat bayangan itu kembali menari –nari dipikiran mereka setelah 7 tahun telah beralu, Gabriel memecah keheningan diantara mereka berdua
“ fy…..”
“emmmm, iya kak ???”
“kamu yang kuat yah !!! jangan sedih-sedih terus, sekarang kita harus cari cara supaya Tante Rita gak kecoplosan ama wartawan soal siapa kita yang sebenarnya, aku telpon tante Rita dulu ya” kata  Gabriel berusaha menenangkan adiknya, Ify hanya mengangguk, dan tesenyum tipis.

    Dilain tempat Ibu Rita, tante mereka sedang menhadapi para wartawan “Mereka siapa bu ??” Tanya seorang wartawan, belum sempat Ibu Rita memberikan jawaban wartawan lain telah menyodorkan beribu pertanyaan lain dan akhirnya pengawal harus turun tangan.

SKIP>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

      Gabriel, Ify dan tantenya pun bertemu di tempat parkir bandara seperti perjajian mereka tadi melalui via telefon. Mobil BMW yang mereka tunggangi pun melaju dengan cepatnya membela kemacetan, hingga memasuki sebuah kawasan elit Prasetya Resident, milik Keluarga besar Prasetya Corps perusahaan bawahan Damanik Corps, yah ini milik Tante mereka Ibu Rita. Dan mobil mereka berhenti di sebuah rumah termewah dikawasan ini.
 “ emmmm Masih sama kaya dulu!!!” decak Ify sambil tersenyum
“ Sementara ini kalian tinggal disini dulu beberapa hari yah !!! nanti kalau rumah kalian udah selesai dibersihkan terserah kalian dhee” kata tante Rita
“Iya tante” balas Gabriel dengan tersenyum
    Di pintu utama rumah itu telah berdiri seorang pria seumuran Ify dengan senyuman sinisnya memandangi kedua sepupu dan ibunya, ia adalah Ray Prasetya, pewaris tunggal dari Prasetya Corps.
“Ray ??? Apa kabar bro ???” sapa Gabriel dengan ramah
“ya seperti yang lo liat” jawabnya dengan senyum miringnya
“ray bersikap biasa-biasa saja nanti mereka curiga !!!” bisik Ibu Rita pada anaknya
“Ify mana yel” Tanya Ibu Rita
“Kayanya ketaman belakang deh tan, aku panggil dulu yah” balas Gabriel
        Gabriel pun menuju taman belakang rumah besar itu, dan benar saja Ify ada disana sedang duduk diatas gazebo sambil memandangi kolam ikan yang begitu indah.
“kamu disini Fy !!!”
“Astaga kakak bikin kaget aja, duduk sini kak” jawab Ify sambil menggeser tubuhnya
“kamu masih ingat gak ama Ray ???”
“emmm anaknya tante Rita kan ? Ingatlah yang dulu gonrong kan terus lebih pendek dari pada aku padahal aku ama dia seumuran kan ???”
“iya, tapi sekarang dia gak gonrong lagi loh !!! kayanya sekarang tinggian dia deh dari pada kamu ?!”
“Emangnya kakak udah ketemu ama dia bukannya kata kakak setiap balik ke Indo kakak gak pernah ketemu ama Ray kan ???”
“Udah, dia ada di depan, oh iya kakak jadi lupakan kamu dicariin tuh ama tante Rita, kamu sih pergi gak pamit-pamit”
“ihh masa iya orang dirumah sini doing musti pamit ada-ada aja deh kak!”
“abisnya kamu ngilang gitu aja, yuk ke depan!”
         Mereka pun segera berdiri dan menuju pintu utama rumah keluarga Prasetya ini.
“Kamu dari mana fy ?” Tanya tante Rita
“Dari taman belakang tan, aku abis liat kolam ikan, keren banget tante penataannya”
“oh, itu Ray yang ngerancang sendiri” jelas Ibu Rita
 “Pantes aja tante aku ngerasa ada yang ane ama tamaman belakan, dulu kan gak ada tuh kolam”
“yuk masuk,sekalian kalian berdua bersih-bersih dulu terus kita makan malam bareng- bareng ya”
“Ya tante” jawab Gabriel Dan Ify bersamaan.

SKIP>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

       Kini jam telah menunjukkan pukul 7 waktunya mereka makan malam. Dimeja makan Ibu Rita dan Ray anaknya telah berada disana. Sementara Gabriel memanggil Ify di kamarnya.
“Fy Ify” sambil mengetok pintu kamar Ify
“Iya kak bentar” jawabnya dari dalam kamar setengah berteriak
“cepeten ya” ingat Gabriel
“Nih udah kak” sambil membuka pintu
        Mereka pun menuju ke ruang makan keluarga prasetya.
“Duduk sini fy” suruh Ibu rita
       Ify pun duduk dibangku samping tantenya itu. Ray yang sedang menikmati makanannya melirik gadis disamping ibunya.
 “Cantik” gumam Ray
“Kenapa Ray ??” Tanya Mamanya
“eeh eemmmm aa gak kok Ma!!!” jawab Ray gelagapan, dan berdiri untuk meninggalkan meja makan
“aku duluan ya Ma, Bang, emmm fy” katanya sedikit ragu menyebut nama Ify


Senin, 21 Desember 2015

Hati Yang Sama #Part 3

      Disela-sela perbincangan mereka datanglah Zevana dan Zahra, membawa buku Biologi menghampiri meja mereka berempat, “hay Gabriel, hay Vin” sapa mereka berdua dengan nada yang dimanis-maniskan membuat Alvin ingin muntah, “Vin ini aku udah ngerangkumin kamu materi yang tadi diajarkan ama Pak Duta, nih” kata Zevana, “iya nih Gab” ikut Zahra. Ucapan mereka. membuat Via menahan tawa melihat ekspresi Alvin yang ingin muntah. Zevana dan Zahra melirik Via dan Alyssa dengan tatapan membunuh berlalu menghampiri meja lain.

   Zevana mulai ngedumel “ah tuh cewe nyebelin banget dah”. “ah siapa sih tuh cewe deket banget ama Gabriel, mana mirip banget lagi ama mantannya Gabriel, rival gw dulu yang hilang ditelan bumi” ngomel Zahra. Dia terus memperhatikan meja Gabriel, Alvin, Alyssa dan Via.

 “kak mereka siapa sih ? tatapannya itu loh beuhh” komen Alyssa, “hahaha gak usah dipikirin Al, mereka itu kalau marah mah geretak aja” jawab Via. “Iya Al” jawab Gabriel, “Gw jadi ingat ama Shilla Kak” kata Via tiba-tiba dengan nada sedih. “Iya gw juga Vi, pas Gabriel ama Shilla baru jadian dia dilabrak ama 2 nenek lampir itu” kenang Alvin. “kita jadikan ikut science competition ???, gw daftarin sekarang ya !!” Gabriel mengalihkan pembicaraan, lalu pergi meninggalkan mereka bertiga. “Lo sih Vi kan Gabriel jadi gitu” Alvin menyudutkan Via. “lo juga kali kak” balas Via.

“emm emangnya Shilla sekarang dimana ??” Tanya Alyssa dengan hati-hati, “kita gak tahu Al sejak setengah tahun ini dia gak ada kabar sama sekali” terang Via. “dan itu yang membuat Gabriel jadi rada aneh sekarang” tambah Alvin. “maksudnya ?” Tanya Alyssa meminta kejelasan. “iya sekarang Gabriel jadi pendiem banget, gampang tersinggung, pokoknya berubah banget lah” jelas Alvin. “oh iyah Al tadi pas di kelas  sebelum Ibu Winda masuk lo mau ngomong apaan ?? bikin gw penasaran” Tanya Via. “apaan yaa ?? gw udah lupa” respon Alyssa. “lo Al bikin gw emosi aja, mana tadi ditegur ama Ibu Winda juga” kesal Via. “Vi, Al gw duluan ya mau nyusulin Gabriel” pamit Alvin. “Vi  balik ke kelas yuk” ajak Alyssa. Saat mereka melangkah meninggalkan kantin mereka berdua dicegat oleh 2 nenek lampir menurut Alvin. “etss mau kemana lo berdua ? hah” bentak Zevana “mau balik ke kelas kakak-kakak cantik” jawab Via dengan nada meledek. “berani banget lo ama kakak kelas” bentak Zahra. “ya beranilah gw udah sabuk hitam lo” gretak Via. “wets udah sabuk hitam Ze, bisa babak belur kita” bisik Zahra pada Zevana. “okay, gw Cuma mau bilang jangan perna deketin Alvin, Alvin itu punya gw ngerti” omel Zevana “dan buat lo, elo anak baru disini jangan cari masalah ama senior, jangan pernah deketin Gabriel, paham lo ??” bentak Zahra pada Alyssa sambil menunjuk-nunjuk Alyssa. “udah ngomelnya ???” Tanya Via dengan nada yang sangat-sangat menjatuhkan seniornya itu “yuk Al kita ke kelas aja, malas gw di sini nanti bogem menta gw melayang lagi kemuka senior cantik kita ini” gretak Via lagi lalu berlalu meninggalka 2 nenek lampir itu.

            Sementara di kelas XII SAINS 1 Gabriel duduk termenung di bangkunya tiba-tiba saja Alvin duduk disampingnya membuatnya menoleh sejenak “Sorry Gab” ujar Alvin membuka suara. “buat ??” Tanya Gabriel tanpa menatap lawan bicaranya. “emmm buat yang tadi” jawab Alvin.

           Diam kembali menyelimuti dua sahabat ini hingga beberapa menit “Entar guru-guru pada rapat sekitaran jam 2” ujar Gabriel membuka suara tanpa menatap Alvin bahkan melirik pun tidak ia terus memandang kearah jendela, ia tahu sahabatnya Alvin akan sangat suka dengan apa yang dikatakan Gabriel karena berarti ia ada waktu satu jam untuk menyalurkan hobbynya sebelum pulang sekolah dan mengerjakan segudang tugasnya. “serius lo Gab, oh thanks God, akhirnya gw punya waktu buat main Futsal, lo temenin gw ya Gab” ujar Alvin bersemangat. “liat entar deh Vin” espon Gabriel terhadap ajakan Alvin.

       “Vin gw udah daftarin Tim kita, gw bidang matematika, lo kimia, Via biologi and Alyssa Fisika” jelas Gabriel. “Okay, emm gw kimia wajar lo tahu pelajaran kesukaan gw, Via bio, emang sih dia jago soal bio, terus Alyssa lo pilihin Fisika lo yakin dia bisa ??” Tanya Alvin “yakin” jawab Gabriel singkat padat dan jelas. “mereka berdua udah tau belom ?” Tanya Alvin lagi. “belom” jawab Gabriel singkat lagi. “kalau gitu gw mau ngasih tau mereka dulu” pamit Alvin. “jangan sekarang, lo mau kena hokum lagi, ini jam patrolinya Ibu Ira” cegat Gabriel. “ya ogah la”. “Btw lo punya nomornya Via gak Vin ??” Tanya Gabriel. “kagak, emang buat apaan ??” Tanya Alvin balik. “ya buat ngasih tahu mereka lah” jawab Gabriel. “Tuggu bentar”.

      Avin pun membuat pengumuman dengan berterika-teriak bak toa “woyyy ada yang punya nomernya SIVIA AZIZAH kelas XI SAINS 2 gak!!!”. “Ciee Alvin mau pedekate ama adek kelas” Goda Dayat “apaan sih lo Day” respon Alvin. “sweet sweet ngaku aja deh Vin” goda yang lain. “gw serius nih ada yang punya nomernya Sivia gak ?” terak Alvin lagi. Teriakan Alvin dan goda teman-temannya membuat kuping Zevana “sabar Ze” ucap Zahra berusaha menenangkan sahabatnya. “gak usah teriak-teriak deh Vin, gw punya nih” teriak Irva dari belakang. “thank you so much Irva, btw kok lo bisa punya nomernya Via sih ??” . “oh gw satu sanggar ama dia” jawab Irva.
Alvi berjalan kea rah Gabriel “udah dapat nih Gab”. “ya udah lo SMS aja”
To : Via Cubby
Vi, Gabriel udah daftarin tim kita, entar jam 2 ketemu di lapangan Futsal ajakin Alyssa juga
   By : Alvin
......................................................................................................................


Sabtu, 19 Desember 2015

Hati Yang Sama #Part2

    Mereka berdua pun menyusuri koridor sekolah dengan lesuh, tiba-tiba Sivia berhenti dan menarik tangan Alyssa, sontak saja Alyssa berhenti “ada apa Vi ???”. “ Al liat deh..” jawab Via sambil menunjuk ke arah mading. “Lo mau ikut Vi ??”. “emm.. pengen sih tapi ini lombanya pertim, satu timnya 4 orang, lombanya tinggal 2 minggu lagi, terus daftarnya terrr….” jawab Via. Belum selesai Via berbicara tiba-tiba saja Ibu Ira guru coordinator BK sekolah mereka “SMA ANGGARA”  memergoki mereka berada di luar kelas saat jam pelajaran. “kalian berdua sedang apa inikan masih jam pelajaran ??” Tanya Ibu Ira,sontak saja mereka berdua kaget, “emmmm anu bu emmm itu…” gagap Via seketia, “kita dihukum bu….” Jawab Alyssa. “terus kenapa kalian di sini ??, cepat kelapangan”. Mereka pun pergi kelapangan untuk menjalankan hukuman mereka.

   Sementara di lapangan Gabriel dan Alvin sedang menjalankan hukuman mereka “Gara-gara lo nih gw jadi dihukum” protes Alvin pada Gabriel.”salah loh juga sih udah tau jam pelajarannya pak Duta, lo malah main Hp”. “Lo tu yang salah ngapain pake ngilang segala, udah tahu pelajannya Pak Duta,Presentasi pula..” cerca Alvin. “ohh jadi gitu lo Vin, okay” jawab Gabriel. “malah ngambek, orang lo yang salah juga” balas Alvin. Mereka saling diem-dieman. “Vin lo beneran marah ama gw ??”  setelah sekian lama akhirnya Gabriel membuka suara, tapi tak digubris oleh Alvin. “Vin..” panggil Gabriel sambil menyenggol bahu Alvin “Ya.. lo marah ya.. padahal ada projek keren nih, tadi gw lewat depan madding terus gw liat ada lomba, tapi pertim gitu, lo tahukan lomba antar SMA paling bergengsi itu” kata Gabriel panjang lebar tanpa di gubris oleh Alvin.

        Gabriel melihat ada dua orang siswi berlari kearah mereka, “Vin ada Via tuh” tapi Alvin tetap tidak menggubrisnya dia tak mau dijahili oleh Gabriel, Alvin dan Via memang tidak ada hubungan apa-apa tapi Gabriel tahu sahabatnya itu menaruh hati pada Via. Tiba-tiba kedua orang siswi itu sudah berada diantara mereka.

     “Hai… kak Gab…” sapa Via pada Gabriel. “hai.. Vi” balas Gabriel. “ehh ada kak Sipit juga” sapa Via pada Alvi. “kaya lo gak sipit aja” balas Alvin tanpa memandang Via. Ya setiap mereka bertemu ada saja yang mereka perdebatkan, ini berawal dari pertama kali mereka bertemu saat Via tidak sengaja menabrak kak kelasnya itu di kantin dan menumpahkan segelas jus di baju Alvin.

    “oh iya kak kenalin ini temen aku, namanya Alyssa dia pindahan dari Singapur udah sebulan di sini. Kata Via memperkenalkan Alyssa pada kakak kelasnya. Gabriel baru menyadari keberadaan Alyssa, ia memandang Alyssa dan seketika mata mereka bertemu, deg “sorot matanya sangat-sangat mirip” kata Gabriel dalam hati.

  Tiba-tiba saja Ibu Ira datang, “hei kalian bukannya hormat malah ngerumpi cepat hormat, 30 menit lagi hukuman kalian berakhir”. Tanpa ba bi bu lagi mereka berempat menjalankan hukuman mereka.

   30 menit telah berlalu mereka berempat memilih beristirahat di kantin, Gabriel tak henti-hentinya memikirkan kesamaan antara Alyssa dan gadisnya dulu.

   “Btw kenapa lo bisa dihukum Vi ??” Tanya Gabriel. “Paling gak ngerjain PR” celetuk Alvin santai. “enak aja gw mah rajin ngerjain tugas” balas Via dengan sedikit berbohong. “sejak kapan lo ngerjain tugas paling juga nyontek, pasti tadi lo lupakan kalau ada tugas makanya lo gak ngerampas buku temen lo” balas Alvin diselingi dengan senyuman devilnya. “okay gw ngaku emang iya, puas lo” jawab Via, “apa kata gw”. “tau aja lo Vin soal Via” goda Gabriel. “btw tadi proyek keren  apaan Gab ??” Tanya Alvin mengalihkan pembicaraan. “hahahaha takut gw godain ya Vin, ampe lo cepet banget pinda jalurnaya” goda Gabriel lagi. “apaan sih, proyek apaan ?”. “oh itu science competition, lo tahukan kompetisi sains paling bergensi se SMA, 3 tahun skali bro….lo mau ikut gak ???”. “pastilah, hadiahnya beasiswa ke singapur di universitas bergengsi pula siapa yang bisa nolak coba ??” jawab Alvin. “lo mau ikut Vi ??” Tanya Gabriel. “mau sih kak tapi gak ada kelompoknya, mana terakhir besok daftarnya” keluh Via. “Oh iya Vin, kita juga belum ada kelompoknya” Kata Gabriel. “Bareng mereka aja Gab, daftar sekarang gih” kata Alvin sambil ngelirik Alyssa dan Via. “Okay juga tuh, Al lo mau ikutkan ??” Tanya Gabriel pada Alyssa. Alyssa yang awalnya tidak konsen mengenai pembicaraan mereka gelagapan “eh apa ?? iya iya aku ikut”.

      Disela-sela perbincangan mereka datanglah Zevana dan Zahra, membawa buku Biologi menghampiri meja mereka berempat, “hay Gabriel, hay Vin” sapa mereka berdua dengan nada yang dimanis-maniskan membuat Alvin ingin muntah, “Vin ini aku udah ngerangkumin kamu materi yang tadi diajarkan ama Pak Duta, nih” kata Zevana, “iya nih Gab” ikut Zahra. Ucapan mereka membuat Via menahan tawa melihat ekspresi Alvin yang ingin muntah. Zevana dan Zahra melirik Via dan Alyssa dengan tatapan membunuh berlalu menghampiri meja lain.

   Zevana mulai ngedumel “ah tuh cewe nyebelin banget dah”. “ah siapa sih tuh cewe deket banget ama Gabriel, mana mirip banget lagi ama mantannya Gabriel, rival gw dulu yang hilang ditelan bumi” ngomel Zahra. Dia terus memperhatikan meja Gabriel, Alvin, Alyssa dan Via.

 “kak mereka siapa sih ? tatapannya itu loh beuhh” komen Alyssa, “hahaha gak usah dipikirin Al, mereka itu kalau marah mah geretak aja” jawab Via. “Iya Al” jawab Gabriel, “Gw jadi ingat ama Shilla Kak” kata Via tiba-tiba dengan nada sedih. “Iya gw juga Vi, pas Gabriel ama Shilla baru jadian dia dilabrak ama 2 nenek lampir itu” kenang Alvin.   

Jumat, 18 Desember 2015

Hati Yang Sama #part1

        Alunan nada-nada indah menyapa indra pendengaran Gabriel, membuatnya tertegun, nada-nada itu sungguh menyayat hatinya, bukan karena nada-nada itu merangkai alunan yang menyedihkan, bukan,bukan itu.  melainkan nada-nada itu kembali mengingatkanya, mengingatkannya tentang seseorang yang pernah mengisi relung hatinya.

      Ia tetap pada posisinya memperhatikan sang pianis dari ambang pintu ruang musik, “siapa dia ?? apakah dia telah kembali ??” tanyanya dalam hati pada dirinya sendiri, pianis itu begitu mirip dengan gadisnya walaupun ia hanya melihat punggung pianis itu, bodoh !!! dia masih menganggapnya sebagai gadis kepunyaanya setelah apa yang dilakukan gadis itu padanya.

    Pianis itu telah menyelesaikan permainannya dengan sempurna kemudian ia berbalik hendak keluar dari ruangan ini menuju kelasnya, tanpa ia duga seorang laki-laki dengan seragam yang sama dengannya berada di hadapannya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan olehnya. “mengapa dia menatapku seperti itu ?” pikirnya heran.

      “Maaf” ucap  Gabriel setelah menyadari seorang dihadapannya itu mengernyitkan dahinya heran. Gabriel sedikit melirik kearah papan nama pianis itu “ALYSSA A” bacanya dalam hati, “Permisi aku duluan ya” pamit sang pianis sambil tersenyum.

    Gabriel tetap di ruangan itu, memikirkan sesuatu, memikirkan semua kemiripan Alyssa dan gadis yang telah menyakitinya. Sudah sejak setengah tahun belakangan ini ia selalu menghabiskan waktunya di ruangan itu, bahkan saat pelajaran berlangsung pun jika hatinya sedang gusar ia akan tetap diruangan itu, hal inilah yang selalu membuat sahabatnya -Alvin- pusing untuk mencari alasan jika guru dan teman-temannya mencari Gabriel.

     Seperti saat ini kelas XII SAINS 1 kelas Gabriel sedang belajar Biologi, mereka ditugaskan untuk mempresentasikan materi yang minggu lalu telah diberikan oleh Pak Duta, guru biologi kelas XII yang terkenal killer, anggota kelompok Gabriel Nampak cemas, bahkan sangat cemas, mereka sudah bergantian menanyai Alvin dengan pertanyaan yang sama “KEMANA GABRIEL ?????”. Alvin mengeluarkan Iphonenya untuk menelpon Gabriel dengan hati-hati dari dalam saku celananya agar tidak ketahuan oleh Pak Duta yang sangat tidak suka jika sedang mengajar ada peserta didiknya yang tidak mematuhi aturan yang telah disepakati bersama diawal pembelajaran mereka salah satunya memainkan handphone, nahas belum saja telponnya diangkat oleh Gabriel Pak Duta sudah menegurnya “Alvinn !!” sontak saja Alvin kaget, “kamu tahu konsekuensikan ??” Tanya Pak Duta tegas. Alvin tidak menjawab ia langsung berdiri meninggalkan tempat duduknya, tiba-tiba saja Gabriel berada di ambang pintu “maaf saya telat pak !” ucap Gabriel “Semua orang juga tahu kamu telat, sekarang sudah pukul  11.15, kamu terlambat 15 menit harusnya setelah istirahat kamu langsung masuk kelas, kamu tahukan konsekuensinya ???, keluar sekarang !!!” Marah Pak Duta. Mereka berdua pun begegas menuju lapanga outdoor untuk melaksanakan hukuman mereka, Yah konsekuensi dari setiap pelanggaran dari peraturan Pak Duta adalah hormat bendera selama pelajarannya berlangsung dengan diawasi oleh guru BK, kemudian membuat rangkuman tentang materi yang diajarkan Pak Duta pada hari itu di kelasnya dan mempresentasikannya pada pertemuan berikutnya.

     Sementara di kelas Alyssa  XI SAINS 2 “kamu dari mana al ?” Tanya Via, “Aku dari ruang musik, oh iya Vi, tadi aku…..”  Perkataan Alyssa tergantung karena tiba-tiba saja guru kimia mereka datang “selamat siang anak-anak !!!” sapa Ibu Winda “siang bu……..!!!” jawab penghuni kelas unggulan ini. “buka halaman 227” Ibu Winda mulai menjelakan materi mereka hari ini. Karena merasa penasaran dengan ucapan Alyssa yang sempat terpotong Via memanggil Alyssa “Al ??” panggil Via “emmm” balas Alyssa. Karena hanya dibalas dengan deheman Via kembali memanggil “Al…Alyssa ??”. karena merasa terganggu dengan panggilan Via Ibu Winda menegur Via, “SIVIA AZIZAH !!! APA YANG KAMU LAKUKAN ???”. “Maaf bu !!!” jawab Via dengan menunduk, “Baik, Ibu masih tolerir, tapi kalau kamu membuat keributan lagi, Ibu akan hukum kamu” pelajaran kembali dilanjutkan dan berlangsung dengan tenang. Setelah 15 menit berlalu tiba-tiba saja Ibu Winda miminta siswa-siswi XI SAINS 2 menumpulan PR mereka, sontak saja Via yang tadinya melamun kaget bukan kepalang, tugasnya belum ia kerjakan, ia kembali krasak krusuk memanggil-manggil Alyssa, “Al… Al… Alyssaaaaa….., tugas lo udah selesai belom ???”. “udah dong” jawab Alyssa sambil tersenyum. “Al… Al… ehmmmm lihat dong” mohon Via pada Alyssa.Seperti biasa Ibu Winda mengumpulkan tugas mereka menurut urutan absen dan sialnya Ibu Winda memulai absen dari bawah  “Zevana Arga” panggil Ibu Winda. Alyssa kemudian mengambil bukunya dari dalam tasnya tapi ia tidak menemukannya, ia kembali memeriksa dan membolak balikkan tasnya “Al cepetan dong Ibu Winda mulainya dari bawah lagi, nanti gw dihukum Al…. Al…. please!!” rengek Via, “Vi.. buku gw ketinggalan kayanya deh” jawab Alyssa yang tengah pusing “bakalan dihukum berdua kita AL…”.

     Kini tiba nama Sivia disebut oleh Ibu Winda, “Sivia Azizah” panggil Ibu Winda, sivia tidak bergeming ia menggigit bibir bawahnya, “mana buku kamu ???” nampaknya Ibu Winda mengetahui maksud Sivia, “Siapa yang tidak mengerjakan tugas, yang tidak membawah buku tugas berdiri sekarang !!!!” tegas Ibu Winda, Ibu Winda memang terlihat lembut tapi untuk urusan tugas beliau sangat tegas.

     Berdirilah Sivia dan Alyssa “kalian berdua lagi, tadi sudah saya tegur, sekarang kalian tidak mengerjakan tugas” sambil melirik jam tangannya Ibu Winda “sekarang kalian keluar……” tegas Ibu Winda.
    Mereka berdua pun menyusuri koridor sekolah dengan lesuh, tiba-tiba Sivia berhenti dan menarik tangan Alyssa, sontak saja Alyssa berhenti “ada apa Vi ???”. “ Al liat deh..” jawab Via sambil menunjuk ke arah mading. “Lo mau ikut Vi ??”. “emm.. pengen sih tapi ini lombanya pertim, satu timnya 4 orang, lombanya tinggal 2 minggu lagi, terus daftarnya terrr….” jawab Via. Belum selesai Via berbicara tiba-tiba saja Ibu Ira guru coordinator BK sekolah mereka “SMA ANGGARA”  memergoki mereka 

...........................................................................................................................

Apakah yang akan terjadi selanjutnya ??? tunggu part selanjutnya yaaaa..........